Angka Mati Kalender Jawa, Apa Saja Mitos dalam Penanggalan Jawa?

Dalam Jawa sendiri memang masih banyak menganut beberapa kepercayaan, salah satunya yakni angka mati kalender Jawa. Penanggalan ini telah digunakan oleh Kesultanan Mataram dan beberap kerajaan di sekitarnya karena memiliki keistimewaan sendiri dan dipercaya sampai saat ini.

Merumuskan Angka Mati 2D Berdasar Kalender Jawa

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/

Dalam Kalender Jawa ini, ada beberapa rumus angka yang didasarkan atas hari. Umumnya orang-orang akan menggunakannya untuk mengira-ngira angka togel sehingga menjadi angka keberuntungan. Kebanyakan dari mereka memasang togel 2D bagi semua pasaran.

Misalnya Legi yang memiliki angka pasaran 5 dan angka mati 2D dari 24 sampai 44. Sementara Pahing mempunyai angka pasaran 9 dengan angka mati 2D dari 80 hingga 00. Berikutnya yakni Pon, angka pasaran 7 dan angka mati 2D berada di antara 49 – 69.

Uuntuk hari berikutnya adalah Wage dengan angka pasaran 4 dimana angka mati 2D nya diantara 16 hingga 36. Terakhir yakni Kliwon, memiliki angka pasaran 7 dan angka mati antara 64 hingga 75. Sistem perumusan ini telah didasarkan atas Kalender Jawa.

Mitos Hari Keramat Menurut Kalender Jawa

Bagi Anda yang bertempat tinggal di kawasan Jawa, tentu tidak asing lagi dengan sistem penanggalan Jawa. Bahkan ada banyak aturan di dalamnya mulai dari hari kelahiran, penentuan jodoh dan hari pernikahan dan lain sebagainya. Namun apa saja hari-hari keramat menurut Kalender Jawa?

1. Jumat Kliwon

Tentu saja Anda sudah tidak asing lagi dengan Jumat Kliwon yang terkesan angker dan menakutkan akibat berbagai hal. Hari Jawa satu ini memang terkenal memiliki nilai keramat tersendiri oleh sebagian besar warga di Indonesia terutama jika berdomisili asli di Pulau Jawa.

✅Kamu Harus Baca Juga:  Cara Mudah Menghafal Irregular Verb, Cek Aturan Pemakaiannya

Banyak orang percaya jika malam Jumat Kliwon ini adalah malam yang angker. Kepercayaan ini datang dari orang zaman dahulu dengan kebiasaan berpuasa selama 40 hari. Selanjutnya malam Jumat Kliwon merupakan hari puncaknya. Kebiasaan ini masih ada di Labuhan Pantai Parangkusumo Jogja.

2. Jumat Wage

Jumat Wage pun juga sama karena memiliki nilai kekeramatannya sendiri khususnya bagi warga Kemukus, Jawa Tengah. Ada banyak ritual berbau mistis yang ada khususnya oleh masyarakat daerah Kemukus. Mereka melakukannya di malam Jumat Wage.

Selain itu adanya neptu Wage ini juga menjadi keramat tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di daerah Gunung Kelud. Warga di sana percaya bahwa mitos letusan Gunung Kelud selalu terjadi di hari neptu Wage sehingga memiliki kepercayaan keramat tersendiri.

3. Kajeng Kliwon

Kajeng Kliwon memiliki nilai kekeramatan tersendiri khususnya oleh warga Hindu di daerah Bali. Hari ini merupakan peringatan setiap 15 hari sekali yakni pada pertemuan Pancawara Kliwon dan juga Triwara Kajeng. Mereka memperingati sebagai hari turunnya Butha atau raksasa jahat.

Tujuan raksasa jahat datang ke bumi adalah untuk mencari orang karena tidak melaksanakan dharma agama. Ritual upacara di hari Kajeng Kliwon merupakan bentuk persembahan secara tulus dan ikhlas. Mereka melakukannya hanya kepada Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan yang Maha Esa.

4. Selasa Kliwon

Banyak orang Jawa menganggap bahwa Selasa Kliwon adalah keramat. Bahkan kebanyakan dari mereka percaya jika mayat orang ketika meninggal di hari tersebut akan mendapatkan penjagaan penuh selama 40 hari. Tujuannya agar tidak dicuri oleh mereka ketika sedang mencari ilmu batin.

Sama halnya seperti Jumat Kliwon, awalnya memiliki nilai keramat karena sering menjadi puncak hari terakhir bagi orang-orang yang berpuasa di zaman dulu. Khususnya di Keraton Surarakarta, setiap malamnya akan ada ritual kusus yakni ngisis Wyang Kyai Nganut, artinya berjemput mencari angin.

✅Kamu Harus Baca Juga:  Contoh Surat Dinas yang Baik dan Benar

Larangan Nikah pada Weton Tertentu Menurut Kalender Jawa

Bagi masyarakat Jawa tentu sudah tidak asing lagi dengan penentuan weton terutama ketika menentuan cocok atau tidaknya seorang pasangan untuk masa depan. Namun sebenarnya ada 3 weton mendapatkan larangan pernikahan menurut Kalende Jawa. Berikut diantaranya:

Wage dan Pahing

Pertama adalah larangan pernikahan bagi orang yang memiliki weton wage dan pahing. Pasalnya keduanya mempunyai kepribadian sangat bertolak belakang. Sifat orang wage cenderung seperti minyak sementara pahing adalah air sehingga keduanya tidak dapat bersatu apalagi menikah.

Alhasil, wage dan pahing memang paling sulit untuk bersatu. Orang-orang Jawa pun percaya jika mereka tidak akan cocok satu sama lain. Apabila masih nekat mempertahakannya, maka rumah tangga bisa penuh dengan berbagai jenis konflik. Bahkan perselisihan sangat sulit selesai dan berakhir.

Pasangan dengan Weton 25

Selain wage dan pahing, mereka yang tidak cocok untuk melangsungkan pernikahan adalah pasangan dengan jumlah weton 25 setelah menggabungkan kedua wetonnya. Jadi Anda perlu menghitung terlebih dahulu mulai dari hari hingga neptu kemudian menjumlahkan milik pasangan.

Beberapa contohnya adalah, Minggu Kliwon dan Minggu Pon, Minggu Kliwon dan Selasa Pahing, , Rabu Kliwon dan Selasa Pon atau lainnya asal jumlah weton adalah 25. Jika kekeh terus melanjutkan pernikahan, maka salah satu dari orang tua pasangan akan meninggal akibat ketidakcocokan.

Pasangan dengan Weton 26

Selain jumlah total 25, ternyata weton pasangan jumlah 26 juga memiliki larangan untuk menikah. Anda bisa menghitung sendiri apakah weton dengan calon suami atau istri adalah 26. Diantaranya seperti Rabu Pahing dan Minggu Legi, Jumat Kliwon dan Kamis Wage serta Kamis Pahing dan Minggu Wage.

✅Kamu Harus Baca Juga:  Cara Menulis Opini Untuk Media Cetak Dan Media Online

Apabila masih memaksakan untuk melanjutkan pernikahan, maka akan mendapati rumah tangga yang penuh dengan perselisihan. Anda bersama pasangan bisa menghadapi berbagai jenis permasalahan hingga membuat hubungan renggang hingga akhirnya bercerai.

Solusi dengan Pasangan jika Ingin Tetap Menikah

Bagi Anda jika hanya terhalang restu weton saja namun tetap ingin menikah, nyatanya hal ini sudah ada solusinya. Namun pastikan bahwa sudah mengetahui apa saja resiko setelah memasuki hubungan rumah tangga nanti. Pertama yakni memilih tanggal pernikahan yang baik untuk menetralisir bala.

Selain itu, Anda juga bisa mengadakan syukuran setiap kali sedang merayakan ulang tahun pernikahan. Hal ini bertujuan untuk menolak adanya bahaya, ancaman dan bala yang selalu datang mengancam rumah tangga. Niat lain adalah sebagai bentuk syukur karena pernikahan masih bertahan.

Kemudian ada beberapa syarat yang bisa Anda jalani sebelum menginjak di hari pernikahan. Pertama yakni menyembelih ayam cemani. Kedua adalah menaburkan tanah sudah digenggam. Selanjutnya menaruh tanah tersebut di bawah tempat tidur. Lakukan hal ini untuk menjauhkan dari bala bahaya.

Sampai saat ini memang masih banyak orang yang percaya dengan angka mati kalender Jawa untuk berbagai keperluan seperti menebak angka Togel. Namun tidak hanya itu saja dapat Anda yakini mengenai mitos penanggalan Jawa. Misalnya saja penentuan weton sangat penting sebelum menikah.

200